Sayuran Busuk? Jangan Dibuang daripada Mencemari Lingkungan

 Limbah rumah tangga merupakan salah satu jenis limbah yang terus ada setiap harinya. Setiap rumah pasti menghasilkan limbah setiap harinya. Maka pastinya banyak juga sampah-sampah yang keluar dari dapur, termasuk sisa-sisa potongan sayuran, sayuran busuk, dan banyak juga lainnya. Sampah yang setiap harinya keluar pasti juga dapat mencemari lingkungan jika tida mendapat ruang pemanfaatan yang baik. Terlebih, jika sampah tersebut ditumpuk setiap hari dan dilakukan oleh banyak orang. Yang jelas, sampah tersebut juga pasti menggunung dan juga menimbulkan bau tak sedap yang mencemari lingkungan. Dan jika lingkungan sudah tercemar, pasti yang merasakan dampaknya juga manusia sendiri bukan? Bisa jadi hal tersebut justru berpengaruh kepada kesehatan manusianya sendiri.

Oleh karena itu, mari kita lakukan pengolahan sampah rumah tangga dengan sebaik-baiknya, minimal atas sampah kita sendiri, dan untuk kepentingan kita sendiri. Lebih baik lagi, kita ikut mengedukasi pentingnya pengelolaan sampah ke tetangga sekitar, sanak saudara, teman, ataupun kenalan-kenalan lain untuk mengelola sampah rumah tangga dengan baik. Kita pun sebenarnya diwajibkan oleh pemerintah untuk mengelola sampah yang mana dalam Pasal 10 Ayat 2 PP No. 81 tahun 2012 tentang PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA"Setiap orang wajib melakukan pengurangan sampah dan penanganan sampah.". Jadi meski sedikit, kita perlu melakukan pengelolaan sampah.

Sampah secara umum dibedakan menjadi dua, yaitu sampah organik dan anorganik. Sampah organik adalah sampah yang dapat terurai secara alamiah, sedangkan sampah anorganik adalah sampah yang dalam penguraiannya membutuhkan beberapa tahapan. Sampah rumah tangga terkadang dapat digolongkan menjadi sampah organik, dan sampah anorganik. Sampah organik dalam limbah rumah tangga contohnya, bekas potongan sayur, tulang ikan, tulang ayam, dan semacam itu. sedangkan sampah anorganik dalam limbah rumah tangga contohnya adalah styrofoam, bungkus makanan, dan yang semacam itu. Lebih mudahnya, sampah organik biasanya berupa sampah yang basah, dan sampah anorganik adalah sampah kering seperti kemasan.

Untuk mengelola sampah pastinya butuh waktu, tenaga, dan kemauan bukan? Pasalnya, tidak semua orang memiliki hal tersebut. Sehingga tak jarang banyak orang yang akhirnya malas untuk mengelola sampah, padahal hal tersebut juga demi kepentingannya sendiri terlebih juga lingkungan sekitarnya pula. Maka ada cara mudah untuk mengelola sampah organik yang berasal dari dapur, yaitu dengan sistem pengelolaan sampah bekas sayuran menjadi pupuk kompos dengan menggunakan Keranjang Takakura. Cara ini, dinilai cukup mudah untuk tingkatan pengelolaan sampah rumah tangga. Hanya dengan menimbun sampah organik yang berasal dari dapur tersebut dalam sebuah keranjang yang ditutup oleh tanah dan sekam. Berikut strukturnya :

Sumber gambar : https://www.researchgate.net/publication/324672801_MEMBUAT_KOMPOS_DENGAN_METODE_TAKAKURA

Keranjang takakura merupakan keranjang plastik yang sisi-sisinya berlubang. Bagian dalam dari keranjang takakura berisi sekam pada bagian bawah dan atas, dan pada sisinya ditutup dengan kain karpet. Keranjang takakura umumnya diisi dengan sayuran yang telah dipotong kecil-kecil dan kemudian ditimbun berlapis dengan stater atau kompos yang telah jadi. Keranjang takakura ditempatkan di tempat yang relatif teduh atau tidak terkena sinar matahari secara langsung supaya hasilnya maksimal. Tidak hanya ditempatkan di tempat teduh, takakura harus disiram setiap hari supaya proses fermentasi sampah lebih cepat. Berikut ialah foto proses dan hasil pemanenan dari keranjang takakura berupa pupuk padat. 

Keranjang takakura dinilai cukup praktis untuk menjadi solusi bagi kita yang mungkin memiliki banyak kesibukan namun masih ingin mengelola sampah. Prinsip keranjang takakura adalah penimbunan sampah organik dengan tanah dan dengan kondisi yang lembab sehingga menciptakan lingkungan yang cukup ideal bagi organisme di tanah seperti cacing, dan jamur pengurai sampah untuk melaksanakan tugasnya dalam menguraikan sampah. Sehingga kondisi keranjang takakura benar-benar seperti ditanah, namun dengan lebih kompatibel dan dapat dipindah-pindah.

Meski dalam kondisi yang cukup ideal, untuk mempercepat proses pembusukan dari sampah organik tersebut. Alangkah baiknya agar dicacah menjadi bagian-bagian kecil sehingga proses perubahan menjadi pupuk kompos pun lebih cepat. Proses ini, dapat memakan waktu hingga 2-3 bulan untuk menjadi kompos. Contoh keranjang takakura :




Nahh, seperti itu kira-kira pengelolaan sampah dengan menggunakan keranjang takakura. Cukup mudah bukan? Ayo kita manfaatkan waktu untuk mengelola sampah. Terima kasih telah membaca


Nama : Husna Meta Amalia
NIM : C06218004
Prodi : Ilmu Falak

Komentar